Semen Sebagai Produk Tambang

Semen Sebagai Produk Tambang – Pemanfaatan hasil semen sangat mudah untuk kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari seperti pada kegiatan konstruksi baik itu untuk pembangunan gedung hingga pembuatan jalan. Semen merupakan salah satu produk hasil tambang.

semen material

Semen merupakan hasil buatan dari batu kapur atau batu gamping (limestone). Batu kapur ini merupakan salah satu produk tambang yang termasuk dalam Bahan Galian Industri (BGI). Mari simak penjelasan lebih jauh mengenai semen, sebagai berikut :

Bahan Baku Dalam Pembuatan Semen

Dalam pembuatan semen, ada sejumlah material yang diperlukan dalam pembuatan produk semen tersebut, seperti batu kapur (Limestone), merupakan material utama dalam pembuatan semen, pasir silica (silica sand), pasir besi (iron sand), tanah liat, gypsum dan juga abu terbang (fly ash). Dibawah ini merupakan penjelasan dari masing-masing bahan baku :

a. Batu Kapur (Limer Stone)

Batu Kapur yaitu sumber utama senyawa Kalsium. Batu kapur murni biasanya merupakan kalsit atau aragonit yang secara kimia keduanya dinamakan CaCO3. Kalsium karbonat (CaCO3) di alam sangat banyak tersedia di berbagai tempat. Kalsium karbonat bermula dari pembentukan geologis yang pada umumnya bisa dipakai untuk pembuatan semen Portland sebagai sumber utama senyawa Ca.

Batu kapur murni umunya berupa Calspar (kalsit) serta aragonite. Senyawa Karbonat dan Magnesium di dalam batu Kapur umumnya berbentuk dolomite (CaMg(CO3)2. Dalam proses pembuatan Semen, CaCO3 akan berubah menjadi oksida Kalsium (CaO) serta dolomite berubah bentuk menjadi kristal oksida magnesium (MgO) bebas/Periclase.

b. Tanah Liat (Tanah Liat)

Tanah Liat (Al2O3.K2O.6SiO2.2H2O) yaitu bahan baku semen yang memiliki sumber utama senyawa silikat serta aluminat dan juga sedikit senyawa besi. Tanah liat mempunyai berat molekul 796,40 g/gmol dan secara umum mempunyai warna cokelat kemerah-merahan serta tidak larut dalam air. Dalam jumlah sangat kecil terkadang juga didapati senyawa-senyawa alkali (Na dan K) yang akan berpengaruh pada mutu semen.

c. Bahan Baku Penunjang

Bahan baku penunjang merupakan material mentah yang digunakan jika terjadi kekurangan salah satu bagian pada pencampuran material mentah. Pada umumnya, bahan baku korektif yang digunakan memiliki kandungan oksida silika, oksida alumina dan juga oksida besi yang terdapat dari pasir silika (silica sand) dan pasir besi (iron sand).

  • Pasir Silika (silica sand). Pasir silika digunakan sebagai pengkoreksi kadar SiO2 yang ada dalam tanah liat yang rendah.
  • Pasir Besi (iron sand). Pasir besi digunakan sebagai pengkoreksi kadar Fe2O3 yang umunya dalam bahan baku utama masih kurang.

d. Bahan Tambahan

  • Gypsum. Di dalam proses penggilingan terak ditambahkan bahan tambahan Gipsum sebanyak 4 sampai 5%. Gipsum dengan rumus kimia CaSO4.2H2O adalah bahan yang harus ditambahkan pada proses pengilingan klinker menjadi semen. Fungsi gypsum yakni mengatur waktu pengikatan daripada semen atau yang dikenal dengan sebutan retarder.
  • Abu Terbang (Fly Ash). Abu terbang adalah komponen dari sisa pembakaran batu bara pada boiler pembangkit listrik tenaga uap yang memiliki bentuk partikel halus amorf dan bersifat Pozzolan yang bisa bereaksi dengan kapur pada suhu kamar dengan media air membentuk senyawa yang memiliki sifat mengikat.

Proses Pembuatan Semen

  1. Siapkan bahan baku, Persiapan bahan baku baik penambangan limestone ataupun clay dan juga menyiapkan sejumlah bahan baku lainnya
  2. Pengeringan serta penggilingan bahan baku, Penggilingan bahan mentah merupakan cara untuk memperkecil ukuran material mentah menjadi lebih kecil atau membuat luas permukaan material menjadi lebih besar. Setelah itu, material juga mengalami pengeringan dengan media pengeringanya berupa gas panas yang mampu berasal dari hot gas generator maupun dari kiln exchaust gas.
  3. Pembuatan klinker (pembakaran), Proses pembakaran meliputi pemanasan awal umpan baku di preheater (pengeringan, dehidrasi dan juga dekomposisi), pembakaran di kiln (klinkerisasi) serta pendinginan di Grate cooler (quenching).
  4. Penggilingan klinker, Penggilingan dilakukan agar bahan memiliki ukuran tertentu
  5. Pada pengantongan semen, semen dikantongi dengan setiap 1 sak berisi 50 kg semen, kemudian dibawa ke truk untuk dipasarkan.

Jenis-jenis semen menurut Standar Nasional Indonesia (SNI)

  1. Portland Cemen, yaitu jenis yang paling umum dari semen karena merupakan bahan dasar beton dan juga plesteran semen.
  2. Super Masonry Cemen, Semen ini lebih cocok dipakai untuk konstruksi perumahan gedung, jalan serta irigasi yang struktur betonnya maksimal K225, pembuatan genteng beton, hollow brick, paving block, tegel dan juga bahan bangunan lainnya.
  3. Oil Well Cemen (OWC), yaitu semen khusus yang dipakai untuk pembuatan sumur minyak bumi dan juga gas alam dengan konstruksi sumur minyak bawah permukaan laut dan bumi.
  4. Semen Putih, merupakan semen yang dipakai untuk pekerjaan penyelesaian (finishing), sebagai filler atau pengisi.
  5. Hidropobic cement, Klinker yang digiling dengan menggunakan bahan tambahan asam oleat atau asam streat.
  6. Waterproofed cement, Semen ini kerap digunakan untuk konstruksi beton yang memiliki fungsi menahan tekanan hidrostatis, misalnya tangki penyimpanan cairan kimia.
  7. Semen alumina, mampu menghasilkan beton dengan kecepatan pengerasan yang cepat serta tahan terhadap serangan sulfat, asam namun tidak tahan terhadap serangan alkali.
  8. Portland Pozzolan Cement, merupakan jenis semen yang lebih tepat digunakan untuk bangunan umum serta bangunan yang memerlukan ketahanan sulfat dan panas hidrasi sedang, seperti jembatan, jalan raya, perumahan, dermaga, beton massa, bendungan, bangunan irigasi dan fondasi pelat penuh.
  9. Portland Composite Cement, merupakan jenis semen yang digunakan untuk bangunan-bangunan pada umumnya dimana pengerjaannya akan lebih mudah serta menghasilkan permukaan beton atau plester yang lebih rapat dan lebih halus.

Semen menjadi salah satu hasil tambang yang cukup dikenal dalam kehidupan sehari-hari. Indonesia sendiri memiliki sejumlah emiten yang notabane bergerak dalam industri semen. Tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik, produk semen dalam negeri juga dapat menembus pasar ekspor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *